0
Dikirim pada 15 Februari 2009 di agama


Ditulis oleh khilafahislamiyah di/pada Mei 17, 2007

Sesungguhnya agama Islam memerintahkan setiap orang muslim agar mencintai saudaranya bagaikan mencintai dirinya sen- diri, kemudian menghindari mereka dari keburukan sebagaimana ia menghindarkan diri daripadanya, nasehat menasehati demi men- ta’ati kebenaran yang telah didatangkan dari Allah dan Rasul-Nya, baik itu berupa perintah maupun larangan, dengan hati rela mematuhinya.

Di saat agama Islam tiba dan kaum Jahiliyah membenci bayi perempuan, bahkan tega buah hati sendiri dikubur hidup-hidup, tidak memberikan harta warisan kepada wanita, terkadang mem- pusakai wanita bagaikan harta yang lain dengan jalan paksa.

Maka Allah serta Rasul-Nya melarang perbuatan keji ter- sebut, menjaga dan mengangkat derajat wanita bagaikan mutiara berharga, dengan memberikan hak-haknya sebagaimana agama menghormati dan memberikan hak-haknya kepada seorang lelaki.

Demi kesucian masyarakat serta demi keutuhan dan kehor- matan seorang muslimah dari kemaksiatan dan dari kecerobohan orang jahil, maka Islam menganjurkan perkawinan dan mengharam- kan perbuatan zina. Maka demi kesucian dan keutuhan, Allah Maha Penyayang memerintahkan para muslimah agar mengenakan hijab (jilbab), supaya berada di sisi Allah, dan ditempat sejauh mungkin dari perbuatan keji yang dapat menimpa pada diri kaum muslimah.

Simak baik-baik ayat Al Qur’an ini : “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan pehiasaannya kecuali yang biasa nampak dari pandangan. Dan hen- daklah mereka menutupkan kainkerudung ke dadanya, dan jangan- lah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau keapda ayah mereka, atau putra-putra mereka, atau saudara- saudara mereka, atau putra-putra suami mereka, atau wanita- wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan- pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap� kaum wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat kaum wanita. dan janganlah mereka memukul kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung“. (Qs An Nur : 31)

Bagaimana jilbab yang dimaksud dalam ayat diatas,� setidaknya harus memenuhi syarat-syarat hijab atau jilbab sebagai berikut� dan inilah jilbab yang syar’i dan benar :

1.

Menutupi seluruh tubuh, sebagaimana yang difirmankan Allah, “Hendaklah mereka itu mengeluarkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“. (Qs Al Ahzab : 59)
2.

Maksud daripada berhijab adalah� untuk menutup tubuh wanita dari pandangan laki-laki. Jadi, bukan yang tipis, yang pendek, yang ketat, tau berkelir serupa dengan kulit, mau- pun yang bercorak dan yang bersifat mengundang penglihat- an laki-laki.
3.

Harus yang longgar, sehingga tidak menampakkan tempat- tempat yang menarik pada anggota tubuh.
4.

Tidak diberi wangi-wangian, hal ini telah diperingatkan oleh Rasulullah saw : “Sesungguhnya seorang wanita yang memakai wangi- wangian kemudian melewati kaum (laki-laki) bermak- sud agar mereka mencium aromanya, maka ia telah melakuk- an perbuatan zina“. (HR Tirmidzi)
5.

Pakaian wanita tidak boleh menyerupai laki-laki, “Nabi saw melaknat laki-laki yang mengenakan pakaian wanita, dan seorang wanita yang mengenakan pakaian laki-laki“. (HR Abu Dawud dan An Nasai).
6.

Tidak menyerupai pakaian orang kafir, “Siapa yang meniru suatu kaum, maka ia berarti dari golongan mereka“. (HR Ahmad)
7. Berpakaian tanpa bermaksud supaya dikenal, baik itu dengan mengenakan pakaian yang berharga mahal maupun yang mu- rah, jika niatnya untuk dibanggakan karena harganya atau- pun yang kumal jika bermaksud agar dikenal sebagai orang yang ta’at (riya’). “Siapa yang mengenakan pakaian tersohor (bermaksud supaya dikenal) di dunia, maka Allah akan mem- berinya pakaian hina di hari Kiamat, lalu dinyalakan apa pada pakaian tersebut.” (HR Abu Dawud)

Sungguh fenomena jilbab pada saat sekarang, membuat kita di satu sisi patut bersyukur, wanita sudah tidak malu lagi untuk berjilbab di manapun tempatnya sehingga jilbab benar-benar telah membudaya di masyarakat dan dianggap sesuatu yang lumrah.Namun di sisi lain jilbab yang sesungguhnya harus memenuhi prasyarat jilbab syar’i sebagaiman tersebut di atas seakan telah berubah fungsi dan ajaran, banyak sekali dan telah� bertebaran dimana-mana jilbab yang bukan lagi syar’i tapi lebih terkesan trendy dan mode atau lebih dikenal dengan jilbab funky yang kebanyakan dari semua itu adalah menyimpang dari syarat-syarat syara’ jilbab yang sebenarnya.

Diantara penyimpangan-penyimpangannya� yang ada, antara lain :

1.

Tidak ditutupnya seluruh bagian tubuh. Seperti yang biasa dan di anggap sepele yaitu terbukanya bagian kaki bawah, atau bagian dada karena jilbab diikatkan ke leher, atau yang lagi trendy,� remaja putri� memakai jilbab tapi lengan pakaiannya digulung atau dibuka hingga ke siku mereka.
2.

Sering ditemui adanya perempuan yang berjilbab dengan pakaian ketat, pakaian yang berkaos, ataupun menggunakan pakaian yang tipis, sehingga walaupun perempuan tersebut telah menggunakan jilbab, tapi lekuk-lekuk tubuh mereka dapat diamati dengan jelas.
3.

Didapati perempuan yang berjilbab dengan menggunakan celana panjang bahkan terkadang memakai celana jeans. Yang perlu ditekankan dan telah diketahui dengan jelas bahwa celana jeans bukanlah pakaian syar’i untuk kaum muslimin, apalagi wanita.�
4. Banyak wanita muslimah di sekitar kita yang memakai jilbab bersifat temporer yaitu jilbab dipakai hanya pada saat tertentu atau pada kegiatan tertentu, kendurian, acara pengajian kampung dsb, setelah itu jilbab dicopot dan yang ada kebanyakan jilbab tersebut sekedar mampir alias tidak sampai menutup rambut atau menutup kepala.

Terkadang, kalau ditanyakan kepada mereka, mengapa kalian berbuat (melakukan) yang demikian, tidak memakai jilbab yang syar’i, padahal telah mengetahui bagaimana jilbab yang syar’i, sering didapati jawaban, “Yaa, pengen aja “, atau “Belum siap “, atau “Mendingan begini daripada tidak memakai jilbab sama sekali “, atau ” Jilbab itu khan tidak hanya satu bentuk, jilbab khan bisa dimodofikasi yang penting khan menutup aurat ” terkadang didapati juga jawaban, “Kok kamu yang ribut, khan emang sudah menjadi mode yang seperti ini!”

Padahal, dituntutnya jilbab dengan syarat-syarat yang telah ditentukan sesuai dengan hukum syara’ yang disebutkan di atas, sesungguhnya akan membawa kebaikan bagi kita sendiri, baik di dunia maupun di akhirat dan bukan didasari atas nafsu atau ditujukan untuk mengekang kita.

�Janganlah sampai suatu kaum, dimana mereka meremehkan perempuan-perempuan/muslimah yang berjilbab hanya karena memakai pakaian/jilbab yang tidak sesuai dengan hukum syara’.�

Apabila kaum telah meremehkan hal ini, maka bagaimana dengan pandangan (penilaian) Allah dan Rasul -Nya terhadap wantia yang seperti ini ? Tidakkah ada bedanya antara perempuan yang berjilbab dengan perempuan yang tidak berjilbab ?

Sumber :

http://khilafahislamiyah.wordpress.com/2007/05/17/jilbab-syari-dan-jilbab-funky/

Jilbab dan Pakaian yang Syar’i itu Bagaimana Sih?

Alhamdulillah. Allahumma sholli ‘ala muhammad. Amma ba’d.

Alhamdulillah, sekarang ini jilbab dan busana kesopanan makin subur dan berkembang di Indonesia. Nggak di Kota, nggak di Desa. Sekarang ini, jilbab sudah diterima di bumi Nusantara ini.

Tapi, ada sedikit asa ketika melihat mereka yang nota bene-nya memakai jilbab tapi mereka seperti ‘tidak berjilbab’. Ataupun mereka yang berpakaian tapi seperti tak berpakaian. Naudzubillah, semoga 4JJI menunjuki keluargaku, khususnya kaum wanita-nya untuk menutup aurat-nya sesuai kaidah syar’i-nya. Amin.

Lalu bagaimanakah jilbab dan pakaian yang syar’i itu?

Jilbab dan pakaian yang syar’i itu adalah seperti pakaian yang kamu – kamu pakai saat sholat. Apa yang nampak, silahkan nampakkan dan apa yang tidak nampak harus disembunyikan dengan pakaian yang beretika dan jilbab yang memenuhi kriteria, dimana jilbab dan pakaian menutup lekukan bagian tubuh kamu - kamu yang mengundang nafsu manusiawi. Adapun untuk bahan dan warnanya silahkan menurut kesukaan-mu masing – masing. Tapi ingat, hati – hati juga dengan warna. Karena warna yang memikat akan mengundang orang yang tidak bertanggung jawab mengerjai anda.

Soal cadar atau tidak. Itu tergantung ilmu-mu, apakah diri-mu sependapat terhadap dalil yang ada tetang cadar, maka silahkan bercadar. Mereka yang bercadar menggunakan dalil dibawah ini;

“Hai orang – orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah – rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu – nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang, maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar) dan 4JJI tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri – istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri – istrinya selama – lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi 4JJI>”

[QS. Al Ahzaab ayat 53]

Tapi, jika dirimu lebih kepada pendapat yang lainnya maka silahkan kamu tidak bercadar. Insya4JJI, dalil keduanya cukup kuat dimana sumbernya adalah Al Qur’an dan hadits Rasulullah SAW. Dalil yang digunakan adalah sebagai berikut;

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri – istri-mu, anak – anak perempuan dan istri – istri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-nya keseluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan 4JJI adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

[QS. Al Ahzaab ayat 59]

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampkakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada-nya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka,…”

[QS. An Nuur ayat 31]

Belum lagi ditambah dengan Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Daud (unstuk status ke-shahih-an hadits ini, mohon masukan dari para pembaca yang menguasai ilmu hadits shahih.), adapun isi hadits tersebut adalah sebagai berikut:

“Wanita itu apabila sudah pernah haid (baligh-pen.), tidak pantas menampkakkan dirinya, kecuali muka dan kedua tangan-nya sampai kepergelangan.”

[Riwayat Abu Daud]

Aku sendiri, menda’wahkan jilbab kepada keluargaku dengan tidak menggunakan cadar. Maaf, jika ada pembaca yang berbeda pendapat denganku. Aku tak ingin berdebat, biarlah 4JJI SWT yang memutuskan kasuistik perbedaan pendapat diantara kita.

Bagiku, selama Ummi-ku, Teteh-ku dan saudara - saudara perempuan-ku mau berpakaian sopan plus jilbab lebar yang memanjang menutupi lekukan disekitar dada sampai kepertengahan lututnya (untuk bagian depan jilbab) dan menutupi lekukan dibagian pinggangnya sampai kepada lutut atau pertengahan lulutnya (untuk bagian belakang jilbab). Dengan mereka melakukan hal itu, aku sudah senang. Apalagi jika dihiasi dengan akhlak Rasulullah SAW dan para istri dan shahabiyah-nya radiyallahu anha, wuah, aku makin senang.

Lalu, kenapa anda harus bingung dengan jilbab dan pakaian yang sesuai dengan syar’i. Ikuti saja petunjuk diatas, insya4JJI, dapat dipertanggung jawabkan. Untuk masalah warna dan bahan, kamu bisa ber-ekspresi, tapi ingat, kita harus beda dengan gaya-nya orang – orang non-muslim. Ingat! Bajunya nggak transparan dan nggak berlekak – lekukan. Jangan lupa dilengkapi dengan manset dan kaos kaki, agar badan-mu tidak terlihat kemana – mana.

Berjilbab dan berpakaian rapi and sopan yuk… yak…yuk!

Sumber : http://jsattaubah.multiply.com/journal/item/28



Dikirim pada 15 Februari 2009 di agama
comments powered by Disqus


connect with ABATASA